Qolamul Hasna

From Small Things…


Motivasi, satu kata yang mengandung makna luar biasa. Mampu membuat semangat kita yang awalnya lemah lunglai menjadi membara. Membuat semangat yang tadinya surut menjadi pasang, membangkitkan energy luar biasa, membuat tangan dan kaki kita bergerak, sel saraf kita senantiasa berlari tak kenal berhenti, jantung kita memompa dengan cepat, adrenalin kita mengalir dengan penuh semangat. Hebat!
Semua itu karena sebuah motivasi.

Ya, sebuah motivasi mampu menjadikan kita lebih kuat, lebih bersemanagat, lebih ceria, lebih baik, dan lebih hebat. Ia mampu membuat kita tersadar dan terbangun dari kemalasan, mampu membuat kita berdiri tegak menatap antap ke depan. Motivasi adalah kunci kita. Salah satu kunci kita meraih kesuksesan.
Semua orang tanpa terkecuali memiliki motivasi dalam diri mereka. Seorang ayah yang rela bekerja siang malama karena termotivasi untuk membahagiakan keluarganya, seorang guru yang tak kenal lelah mengajarkan ilmu kepada muridnya karena termotivasi untuk menebar kebaikan. Semua memiliki motivasi masing-masing. Semua orang mempunyai harapan mereka masing-masing.
Sebagai seorang mahasiswa, tentu kita mempunyai motivasi mengapa kita mau belajar setiap hari, ada yang ingin mendapatkan nilai bagus, ada yang ingin pergi ke luar negeri, ada pula yang ingin menebarkan ilmu yang telah ia miliki kelak setelah menjadi sarjana. Semua itu motivasi. Perbedaannya adalah ada motivasi yang mengarah pada character culture dan ada pula yang mengarah pada achievement culture.

***
Apa itu character culture dan achievement culture?
Mari kita simak sebuah cerita di bawah ini.
Ada dua orang mahasiswa, Ani dan Musa. Ani dan Musa sama-sama seorang mahasiswa tingkat pertama fakultas pertanian. Mereka sama-sama berada di jurusn yang sama, mereka sama-sama pintar, dan aktif dalam kegiatan di kampusnya. Perbedaannya adalah motivasi mereka.
Ani bercita-cita ingin membangun sebuah balai penyuluhan dan klinik tumbuhan. Ia ingin membagikan ilmu yang ia dapat selama kuliah agar nantinya kelak para petani mempunyai wawasan yang luas dan pertanian Indonesia mampu menyaingi pertanian Negara-negara lain.
Lain dengan Ani, Musa berungguh-sungguh belajar untuk mendapatkan nilai terbaik. Dia selalu bersemangat mengikuti setiap ajang perlombaan dan berharap mendapatkan beasiswa belajar ke luar negeri.
Lalu? Apakah motivasi mereka salah?
Tidak.
Tidak ada yang salah dari motivasi mereka, baik Ani maupun Musa, akan tetapi, jawabannya dapat kita renungkan dari apa yang sedang kita alami sekarang.
Bukankah saat ini kita sedang sibuk dengan persiapan semester baru?
Ya, kita sedang sibuk mempersiapkan diri untuk bertempur kembali di semester baru, kita sedang sibuk menyusun jadwal kuliah, sibuk bertemu dosen pembimbing, dan tak ketinggalan, sibuk melihat nilai-nilai kita.
Jika nilai A atau B yang muncul, kita begitu bahagia. Namun, jika nilai C,D, bahkan E yang tertangkap mata sedang ‘nongkrong’ di daftar nilai kita, dunia tiba-tiba seperti runtuh di kepala. Kita menangis, kita menyesal, kita menyalahkan dosen, kita merasa tidak diperlakukan adil, kita curhat’ ke teman-teman, kita mencari pembenaran, mencari zona aman.
Bagi mereka yang mempunyai motivasi achievemt culture, mendapatkan nilai yang tak sesuai harapan akan sangat membuat kecewa, sampai tak bisa makan, tak bisa tidur, tak bisa nafas (*alay.. Plaaak!)
Namun, bagi mereka yang motivasinya adalah character culture. Nilai bukanlah sesuatu hal yang mutlak, meskipun tak memungkiri bahwa kita memang membutuhkan nilai itu.
Seseorang yang memiliki character culture, saat apa yang mereka harapkan BELUM terwujud, justru akan semakin membuat mereka bersemangat, mereka dengan cepat segera bangkit dan memperbaiki kesalahan di masa lalu. Mungkin sesaat ia kecewa, mungkin sesaat ia bersedih, tapi semua itu dengan cepat berlalu dan hilang, justru semangatnya semakin membara, tinggi menjulang.
Satu hal lagi yang istimewa, seorang yang mempunyai character culture. Meskipun ia belum berhasil, namun apa yang dilakukannya, proses yang ia lakukan untuk meraihnya telah menjadi sebuah tabungan pahala.
Jadi, yang manakah motivasi kita?
Jika merasa ada yang salah, perbaiki segera.
Ingat!

KESUKSESAN ADALAH KEGAGALAN YANG TERTUNDA.





Leave a Comment