Qolamul Hasna

From Small Things…


Ada kalanya kita salah melangkah. Kita jejakkan kaki pada jalan yang salah dan kita benar-benar sadar dengan apa yang kita lakukan. Salah melangkah bukan berarti apa yang kila jalani saat itu hal yang buruk, namun kita menyebutnya salah langkah karena dalam hati kita yang terdalam, apa yang telah kta lakukan itu benar-benar di luar keinginan. Hasilnya, kita menerima itu dan menjalaninya, berusaha mencintainya, dan melupakan pelan-pelan harapan lama.

***

Pernahkan kau merasakan perasaan demikian? Pernahkah hal itu benar-benar terjadi? apa yang kau lakukan? menyesalinya? atau mencari cara untuk mencintainya?

Dalam kehidupan kita, setiap saat kita selalu dihadapkan pada sebuah pilihan. Termasuk kebebasan kita dalam memilih cita-cita. Akan tetapi, bebas bukan berarti kita dapat memilih semua keinginan kita tanpa usaha. Ada syarat yang harus dipenuhi, ada kewajiban yang harus dilaksanakan.

Saat kita dhadapkan pada sebuah pilhan cita-ciita. Kita selalu memilih harapan yang tinggi. Dokter, tentara, guru, insiyur, pilot, polisi.  Sedikt dari kita yang memillih cita-cita sederhana. Pengamen, pedagang, petani, sales, buruh, dan pesuruh.

Padahal, tak ada cita-cita yang sederhana. Kitalah yang membentuk itu menjadi sebuah paradigma. Bahwasanya menjadi guru lebih bermartabat daripada menjadi babu. Menjadi insiyur lebih hebat daripada  menjadi tukang sayur.  Paradigna itulah yang terekam dalam otak kita. Tidak hanya kita, tapi hampir sebagian besar masyarakat kita beranggapan sama.

***

Memperjuangkan cita-cita tidak selalu beruntung. Ada yang menang, ada pula yang buntung. Mereka yang menang tersenyum bangga, mereka yang kalah dengan terpaksa memilih jalan yang mereka anggap salah.

Cita-cita yang salah jalan.

Kita yang terpaksa melangkahkan cita-cita di jalan yang salah seringkali mendesah dan berkeluh kesah.

“Tak ada cinta, bagaimana mungkin bisa suka”

Namun, kita yang sudah kecewa tak berani lagi mencoba. Kita terus berjalan walau setengah-setengah kita melakukan. Usaha yang setengah-setengah akan sebanding dengan hasilnya. Hasil yang tak sesuai harapan akan membuat kita bertambah kecewa. Namun, kita yang terlanjur merasa salah jalan justru menyalahkan cita-cita.

Berbeda lagi dengan mereka yang masih berani mencoba. Mereka yang masih mempunyai keyakinan bahwa kesempatan tak hanya datang sekali. Mereka yang masih terus mencoba dan mencoba. Mereka itulah orang-orang yang berani. Walaupun pada akhirnya mungkn merek tetap tak berhasil, usaha mereka dalam memperjuangkannya tetap membawakan hasil. Sebuah pengalaman. Sebuah keikhlasan.

Mereka yang tak pernah lelah mengejar cita-citanya. Mereka yang berani mencoba walaupun berjuta kali gagal, pada suatu titik. mereka akan menemukan makna bahwa meskipun mereka gagal, meskipun mereka tetap belum mampu meraih cita-cita sesuai harapan, cita-cita yang sedang mereka perjuangkan saat ini memang sebuah cita-cita yang pantas untuk dijalani dengan sepenuh hati.

Karena apa?

Karena usaha kita untuk terus meraih cita-cta yang kita ingnkan akan menjadi sebuah usaha kita untuk lebih mencintai, belajar mencintai cita-cita yang sedang kita jalani.

Oleh karena itu, saat kita merasa cita-cita yang sedang kita perjuangkan ini salah jalan, kita perlu mencari dan menggali alasan untuk membuktikan bahwa cita-cita ini layak kita perjuangkan.

Dan bahwasanya apapun yang kita lakukan, apapun profesi kita, apapun cita-cita kita, semua istmewa, yang menjadi pembeda adalah bagaimana kita mengisinya. Menebar kemanfaatan dengannnya.

***

Saat cita-cita salah jalan, percayalah,

kita tak harus membuka jalan baru,

kita hanya perlu mencari alasan untuk mencintainya





Leave a Comment