Qolamul Hasna

From Small Things…


Ada cinta buta di sebuah organisasi. Cinta yang tanpa rem sehingga terus melaju tanpa batas ruang dan waktu. Setap hari, setiap saat, kapan saja, dan di mana pun berada.

Ada cinta buta di sebuah organisasi. Cinta seorang mahasiswa semester pertama dengan sejuta kegiatannya. Cinta yang membuat ia lupa dengan tujuan utama, cinta yang menyingkirkan cinta sebenarnya.

***

Organisasi, tentu kita tak asing dengan kata itu, terutama untuk kita yang telah menjadi mahasiswa, organisasi menjadi sebuah ciri yang selalu identik dengan kita.

Seperti yang telah di tulis dalam postingan sebelumnya, seorang mahasiswa baru dikatakan benar-benar mahasiswa ketika ia juga aktif dalam sebuah organisasi. Semakin banyak organisasi yang ia ikuti, semakin hebat ia di mata teman-temannya. Namun, kriteria mahasiswa keren tak sekedar ia ikut dalam sebuah organisasi, numpang nama dan setor wajah. akan tetapi, mahasiswa sejati adalah mahasiswa yang benar-benar aktif berkontribusi.

Sering terjadi, banyak dari kita ikut organisas karena alasan-alasan yang sebenarnya sangat tdak pantas untuk disebut alasan. Misalnya saja, karena diajak teman atau karena ada kakak angkatan yang diidolakan. Alasan-alasan itulah nantinya yang justru akan menjadi bumerang untuk kita sendiri saat kita benar-benar telah memilih untuk ikut andil dan ambil bagian pada sebuah organisasi.

Mengapa?

Karena niat yang kita tanamkan dari hati semata-mata  bukan karena kta ingin mendapatkan sesuatu yang terbaik bagi diri kita sendiri terlebh bermanfaat bagi orang lain, niat yang salah yang telah kita tanamakan pada hati inilah yang nantnya akan memunculkan perasaan jemu dan lelah. Melakukan sesuatu setengah-setengah.

Sama halnya seperti kita mencintai seseorang dengan tulus, kita akan selalu berusaha memberkan yang terbaik untuknya. Demikian pula jika kita benar-benar telah mencintai organisasi, apapun yang kita lakukan past bertujuan untuk memberikan yang terbak dan menebar kemanfaatan.Kita bersedia kapan saja siap untuk organisasi, kita mampu mengorbankan apa saja untuk organisasi.

***

Satu hal yang perlu diperhatikan. Cinta sejati bukan cinta yang tak tahu diri. Cinta sejati bukan cinta yang lepas kendali. Bukan cinta yang mengorbankan apa saja tanpa pertimbangan, bukan cinta yang mau melakukan apa saja tanpa melihat akibat apa yang ditimbulkan.

Saat kita memutuskan untuk terjun dengan aktif dalam organisasi, kta pun perlu harus berani mengambil dan siap terhadap semua resikonya. Kita harus siap ketika waktu belajar kita berkurang. Kita harus bersedia saat istirahat kita hanya sebantar. Oleh karena itu, cinta sejati adalah cinta yang juga cerdas dan pandai. Cinta yang adil dan bijak. Cinta yang tidak berat sebelah. Cinta yang mampu mengerjakan hak dan kewajibannya. Cinta yang mendekati sempurna.

Pada akhirnya, saat seorang mahasiswa memutuskan untuk melabuhkan cintanya di organsasi, ia harus mampu untuk mencintainya dengan sejati. (ratuaqilah)





Leave a Comment