Qolamul Hasna

From Small Things…


Apa yang kita pikirkan pertama kali saat mendengar kata ‘Mahasiswa’? (Jawab sendiri dalam hati).

Mayoritas seseorang yang ditanya pendapat mereka tentang mahasiswa menjawab bahwa mahasiswa adalah sekelompok orang/pemuda/tingkatan seseorang yang memiliki semangat tnggi, selalu ingin tahu, dan lain sebagainya.

Sekarang pertanyaan sedikit diubah.
Apa yang paling identik dengan seorang mahasiswa? (Sekali lagi, jawab sendiri dalam hati)

Jawaban yang paling sering muncul adalah dua kata :
DEMO dan ORGANISASI.

Untuk demo tidak akan dibahas dalam tulisan ini karena kita akan lebih memfokuskan pada organisasi sesuai dengan judul di atas. “Love” Edition : KULIAHKU TERSAYANG. Namun, sebelum itu, kenapa judul ini ditulis “Love” Edition?

“Love” Edition nantinya akan membahas segala sesuatu yang “dicintai” oleh mahasiswa. Mengapa mereka mencintainya? mengapa mereka lebih memilih mencintainya?

***

Kuliahku tersayang. Kuliah dan sekolah. Sama-sama memiliki satu kesamaan, merupakan sebuah kewajiban. Kalau sekolah lebih ditunjukkan kepada pelajar SD hingga SMA, untuk mahasiswa kita lebih suka menyebutnya kuliah. Lebih terdengar santai, tidak terlalu kaku, dan lebih “keren” di telinga.

Meskipun bukan menjadi nominasi dua besar hal-hal yang paling identik dengan mahasiswa, mau tidak mau, kuliah mempunyai kaitan erat dengan mahasiswa karena tujuan utama seorang mahasiswa adalah kuliah. Belajar.

Mungkin kita sudah biasa melihat dan bertemu dengan mahasiswa yang aktif dan “menerjunkan” dirinya dengan bebas dalam kesibukan organisasi. Namun, kita akan jarang melihat dan bertemu dengan mahasiswa yang lebih menyukai, lebih sayang, bahkan lebih mencintai kuliahnya daripada organisasi maupun kegiatan-kegiatan lain. Kita baru menyadarinya mungkin setelah hasil ujian keluar dan “dia”-mahasiswa cinta kuliah- itu mendapatkan nilai tertinggi mendekati sempurna. Serentak mata kita memandang dia dan bertanya pada diri sendiri.

“Makan apa sih dia?”
“Kok bisa sih?”
“Kereeeeen”

dan lain sebagainya.

Pertanyaan dan rasa kagum itu membuat kita mendekatinya, mengetahui kegiatannya, bertanya trik belajar darinya, dan… setelah kita mengetahui bahwa dia tidak aktif organisasi atau bahkan tidak ikut sama sekali. Pikiran kita sedikit berubah.

“Ohh, pantes”.
“Yaah, kalau kayak gitu mah pantes lah”

dan lain sebagainya.

Akan tetapi, di luar itu semua, ada hal yang lebih menarik untuk dibahas, yaitu alasan mengapa “dia” lebih mencintai kuliahnya.

Banyak dari kita beranggapan bahwa mahasiswa tanpa organisasi itu nggak hidup, nggak keren, nggak gaul. Akan tetapi, meskipun demikian, sering kita juga masih bingung saat di papan pengumuman terpasang.

OPEN RECRUITMENT

Kita akan berpikir untuk ikut atau tidak. Hal itu sering kita alami terutama para mahasiswa baru, kebanyakan dari kita mencoba peruntungan dengan ikut testnya,tanpa pertimbangan. Namun kita kembali bingung saat diterima. Bingung membagi waktu, bingung mau masuk bagian mana, bingung mau apa.

Akan tetapi, ada beberapa mahasiswa yang mempunya pemikiran lain.
Daripada nanti tidak bisa mengatur waktu dan membuat kuliah berantakan, lebih baik tidak ikut organisasi dulu.

Alhasil, mereka yang mempunyai pemikiran seperti itu menjadi mahasiswa pecinta kuliah. Tidak bisa mengatur waktu. Itulah pertimbangan yang paling sering diucapkan.

Menjadi mahasiswa yang cinta kuliah bukan suatu masalah karena setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk menunjukkan ke-eksistensi-nya. Masalah dan hal yang perlu dilihat adalah niat dan tujuannya. Apa yang kita natkan dari belajar sepanjang waktu hingga mengorbankan waktu istirahat dan malam minggu.





Leave a Comment