Qolamul Hasna

From Small Things…


Folio namanya. Putih dengan garis hitam merata. Dia ada di mana-mana. Meja, kantor, tas, buku, maupun tong sampah. Dia lemah, mudah tergerus oler air dan basah, api pun juga sangat bahaya, terbakar sedikit, musnah, tinggal abu belaka.

Itulah folio. Setumpuk folio. Dan di setumpuk folio itu, ada berjuta kisah yang sangat indah. Kisah kita. Kisah setumpuk folio.

Aku mengenal folio sudah berpuluh tahun yang lalu. Saat itu, kakaek membuatkanku sebuah pesawat darinya. Dengan beberapa lipatan istimewa, folio selembar itu melayang bebas di angkasa. Aku gembira.

Pertemananku dengan folio berlanjut, sekarang dengan penuh warna. Aku mulai belajar menggambar, aku mulai belajar mengenal kata dan membaca. Setiap hari aku senang bermain dengan folio. Aneka warna kugoreskan di tubuhnya, dia tak pernah protes, folio itu tak pernah protes, namun, saat bosanku datang dan tangan mungilku meremasnya, pecah tangis folio, ia sadar dan sangat paham, sebentar lagi ia akan berada di pembuangan.

Tahun demi tahun pun berganti. Hingga suatu ketika, aku mulai belajar tentang dunia, luar biasa. Sungguh luar biasa. Aku baru mengerti bagaimana folio terlahir. Dari sebuah pohon yang sangat jauh dari rupa folio, dengan proses yang begitu lama, aku baru mengerti, betapa perjalanan menjadi selembar folio itu lama dan berat sekali.

Dan akhirnya, tiga bulan yang lalu, ada sebuah cerita baru yang lahir, cerita tentang folio di dalam kehidupanku. Aku dan folio, kertas laporanku.

Tahukah kalian apa yang kulakukan saat pertama kali membelinya? Aku menatap harganya.
Lima belas ribu untuk dua ratus lembar kertas folio.
Mahalkah itu? untuk seorang perantau jawaban sudah tentu.
Mahal.
Namun, aku tetap membelinya karena aku memang membutuhkannya.

Sampai di kamar, aku memandangnya. Putih dengan garis hitam merata. Sama seperti yang kulihat di tahun tahun pertama kehidupanku. Sama seperti yang kulihat di pesawat kertas buatan kakekku.

Tanganku mulai meraih pena. Bingung, aku tak tahu harus memulai darimana. Kunyalakan komputer untuk sekedar mencari jawaban atas kebingungan, namun akhirnya tetap tak kutemukan. Tanagnku pun mulai menari.

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI….
PENDAHULUAN…
DASAR TEORI…

Aku berhenti. Lelah. Tanganku sudah lelah. Sudah tiga lembar folio ku”batik” dengan hati-hati. Masih lama, masih ada tiga bab yang menanti untuk ditulis, dan aku mulai menerawang…

Kalau saja pena ini bisa berjalan dan menulis sendiri dengan hanya mendengar aku bicara…
kalau saja kertas ini bisa memunculkan tulisan sendiri hanya dengan aku memikirkan tulisan dengan menatapnya…

Khayalan tingkat tinggi.

Pada akhirnya, selesai juga. Kertas folio dengan garis hitam merata yang putih itu kini sudah lain dari wujud aslinya. Ada banyak tulisan dan gambar tercoret-coret, tapi, tidak hanya itu. di coretan coretan dan gambar itu, ada keringatku, ada usaha, ada doa, ada impian yang juga ikut tertanam.

Kisah setumpuk folio masih berlanjut setiap minggu. Mengapa? karena setiap minggu pasti ada tugas baru, folio baru, laporan baru. Dua, empat, enam, bahkan elapan laporan harus kau kerjakan hanya dalam waktu tujuh hari tujuh malam.

Itulah kisah setumpuk folioku. Ada ngantuk yang bersarang di dalam tulisan-tulisan itu, ngantuk yang akhirnya terpaksa lari dariku karena aku tak ingin memilikinya, hanya karena aku masih ingin berlama lama bercinta dengan setumpuk folio.

Itulah kisah setumpuk folioku. Setumpuk folio yang sangat dijaga agar selalu bersih, kering, dan terhindar dari bahaya. Kertas folio keramat, ada harapan, ada nilai, ada masa depan yang ikut tersangkut di sana.

Namun, setiap orang memiliki kisah folio yang berbeda beda. Sama seperti sebuah mimpi, banyak jalan untuk meraihnya, entah itu jalan pintas nan bebas, atau jalan terjal berliku dengan kerikil tajam, bahkan jalan berduri yang meyakitkan Itulah pilihan dalam kehidupan.

Akan tetapi, layaknya kertas folio yang awalnya putih bersih itu, sangatlah bijaksana apabila mengsisnya dengan sebuah kebaikan. Berjuta kebaikan.

Kisah setumpuk folioku dan foliomu berbeda, namun, haraan kita semua sama, semoga dengan kertas itu, semua coretan di dalamnya, dapat menghantarkan kita ke sebuah mimpi masa depan, tujuan, dan harapan. Terlebih lagi semoga, setumpuk kertas folio itu mampu membawa kita, menjadi penerang kita, menjadi pemberat amal kebaikan, memperberat timbangan untuk mempermudah bertemu dengan Tuhan, bahagia sampai surga.

Karena itulah, kisah setumpuk folioku atau foliomu tergantung pada bagaimana kita mengisisnya, dengan jujur penuh doa dan usaha, atau dengan penuh malas dan cerca.

Karena dia bukan hanya sekedar selembar folio, dia adalah sejarah kita, tulis dengan kebaikan, insya Allah pasti akan ada kebaikan pula yang akan datang.

Kisah setumpuk folioku, di sudut kamar favoritku.
Di malam penuh laporan. Malam penuh impian.





2 Comments to “KISAH SETUMPUK FOLIO”

  1.   annisa ratu aqilah | January 29th, 2012 at 3:00 PM     Reply

    thanks. nice to meet you, Irene ^_^. hope this post bring useful for u. okay, i”ll waiting…

  2.   annisa ratu aqilah | January 29th, 2012 at 3:02 PM     Reply

    thanks Kate. Really? actually, it s look like my diary . big grin enjoy it. nice to meet u ^_^

Leave a Comment