Qolamul Hasna
From Small Things…
Mahasiswa Cerdas Watak
artikel November 17th, 2011
Empat sekawan itu adalah seorang pembelajar. Satu menjadi mahasiswa, satu lagi adalah guru, yang lainnya seorang dosen, dan satu lagi seorang siswa di sebuah sekolah menengah atas. Mereka sama-sama seorang pembelajar. Sama-sama seorang pelaku pendidikan. Namun ternyata, persamaan itu memiliki perbedaan.
Ingatkah kita saat menjadi seorang murid atau siswa. Saat kata “Maha” belum tersemat di nama kita, saat pakaian seragam masih begitu lekat, saat jadwal juga masih ketat. Saat kita masih mengenal guru dan bertemu dengannya enam kali dalam seminggu. Sekarang saat itu menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan, entah itu kenangan dengan orang-orang di dalamnya maupun kenangan selama menjadi bagian darinya.
Lihat sekarang, saat seragam adalah hal yang bukan menjadi aturan, tak ada yang melarang kau berpakaian apa, tak ada yang melarang kau merokok di lingkungan pendidikan. Tak ada. Lihat teman-temanmu, yang datang dari segala penjuru, yang berkulit putih pucat hingga hitam legam. Lihat pelajarannya, yang bisa diatur jam sesuai dengan keinginan kita, aturan tak lagi ketat, tak berangkat pun juga tak apa.
Lihat guru kita, guru yang menjelma menadi sosok dosen yang sangat jarang kita temui, ahkan kadang hanya seminggu sekali, saat kita mendapatkan mata kuliahnya. Lihatlah seorang dosen, yang begitu terlihat intelek dan cerdas, lalu bandingkan, dengan guru kita di SMA.
Saat kita bertemu dan berpapasan dengan seorang guru, bukan hanya senyum dan salam yang kita ucapkan, namun juga tangan kita yang ikut berjabat tangan. Terlihat santun dan juga sopan. Itulah sekolah, saat memang masih belum terlalu beragam budaya di dalamnya, masih terlihat rasa sungkan dan hormat, masih ada hubungan yang jelas dan menyanangkan di antara seorang guru dengan siswanya.
Lihat di tempat kita sekarang berada, saat kita tanpa sengaja bertemu dengan seorang dosen, saling berpapasan tanpa tegur sapa. Mungkin memang beliau tak mengajar kita, mungkin memang kita tak tahu namanya, dan sebaliknya, tapi sungguh tak nyaman sekali dipandang. Dalam satu bangunan, dalam satu lingkup pendidikan, setidaknya ada tegur di sana, ada sapa, atau sekedar senyum sapa. Cukup. Bukan justru diam, tak saling mengenal. Bukankah kita sudah naik di tingkat pendidikan yang lebih tinggi? jadi harusnya bukan hanya kemampuan intelektual kita yang harus meniigkat, namun jua kemampuan moral kita. Bukankah kita harus mempersipakan diri untuk terjun ke dalam dunia masyarakat? di tempat inilah harusnya kita belajar, di tempat yang penuh dengan keberagaman, latar belakang, ras, dan budaya.
Harus ada yang memulai, harus ada yang mengawali, harus ada memprovokatori. Itulah kita sebagai seorang mahasiswa. Jangan hanya menjadi mahasiswa yang cerdas otak, tapi juga arus cerdas watak.
About






One Comment to “Mahasiswa Cerdas Watak”
ehmmm, blog.ugm.ac.id
this is my link, actually, all of people who studied in UGM have it..